Memahami Pola Asuh Otoriter dan Otoritatif pada Anak

“Papa/Mama sudah bilang tidak boleh. Ya, tidak boleh.” Kalimat seperti ini mungkin pernah keluar ketika anak terus meminta sesuatu, menolak berhenti bermain, atau tetap melakukan sesuatu yang sudah dilarang.
Dalam situasi seperti ini, orang tua perlu menentukan bagaimana akan merespons. Apakah cukup meminta anak menurut, atau kita juga perlu menjelaskan alasannya, mendengarkan sudut pandang mereka, dan memberi ruang untuk mengambil pilihan tertentu?
Di sinilah perbedaan pola asuh otoritatif dan otoriter menjadi relevan. Keduanya sama-sama memiliki aturan, ekspektasi, dan otoritas orang tua. Perbedaannya terletak pada bagaimana otoritas tersebut digunakan.
Mari melihat lima perbedaan utama dan bagaimana keduanya dapat terlihat dalam kehidupan sehari-hari.
Aturan yang Jelas atau Terlalu Banyak Mengatur?
Anak membutuhkan aturan. Mereka perlu tahu apa yang diharapkan dari mereka. Perbedaannya terletak pada bagaimana orang tua menetapkan dan menerapkan aturan tersebut. Pola asuh otoriter cenderung membuat aturan dan menuntut anak untuk mengikutinya tanpa banyak ruang untuk bertanya. Sementara itu, pola asuh otoritatif juga menetapkan aturan, tetapi disertai penjelasan dan pilihan yang sesuai dalam batasan tersebut.
Misalnya, anak masih asyik bermain gadget padahal sudah waktunya tidur. Orang tua berkata, “Sudah, matikan gadget-nya. Waktunya tidur.” Anak menjawab, “Bentar lagi, Ma.” Orang tua dengan pola asuh otoriter mungkin langsung membalas, “Nggak ada bentar lagi. Mama sudah bilang tidur, ya tidur.” Dalam situasi seperti ini, anak diharapkan langsung menurut tanpa banyak bertanya atau menyampaikan keberatan.
Sementara itu, orang tua dengan pola asuh otoritatif bisa berkata, “Sudah waktunya tidur. Kamu mau selesaikan yang ini dulu atau langsung matikan gadget-nya?” Kalau anak memilih menyelesaikannya, orang tua bisa menjawab, “Oke, selesaikan yang ini saja. Setelah itu gadget-nya disimpan, ya.”
Batasannya tetap sama. Anak tetap perlu berhenti bermain dan bersiap tidur, tetapi mereka diberi pilihan kecil dalam batasan tersebut. Inilah salah satu perbedaan penting dalam pola asuh otoritatif dan otoriter. Pola asuh otoritatif bukan berarti membiarkan anak menentukan aturan sendiri. Orang tua tetap bertanggung jawab menetapkan batasan, menjelaskan alasannya, dan membantu anak menjalankannya.
Mengajak Anak Bicara atau Hanya Meminta Mereka Menurut?

Anak tidak selalu merespons instruksi orang tua dengan baik. Mereka mungkin mengeluh, bertanya, atau mengatakan bahwa mereka tidak mau melakukan sesuatu. Perbedaan antara pola asuh otoriter dan otoritatif dapat terlihat dari cara orang tua merespons situasi seperti ini.
Bayangkan anak pulang sekolah, menjatuhkan tas di lantai, dan berkata, “Aku capek.” Ketika diminta menyimpan tasnya, mereka menjawab, “Tapi aku capek!” Orang tua dengan pola asuh otoriter mungkin berkata, “Simpan sekarang. Mama nggak mau dengar alasan.” Fokusnya adalah membuat anak menurut, dengan sedikit ruang bagi anak untuk menyampaikan apa yang mereka rasakan.
Sementara itu, orang tua dengan pola asuh otoritatif dapat berkata, “Mama tahu kamu capek. Kamu boleh istirahat sebentar, tetapi tasnya tetap harus disimpan. Mau dirapikan sekarang atau setelah minum?” Orang tua mengakui perasaan anak tanpa menghilangkan tanggung jawabnya. Anak didengar, tetapi batasannya tetap ada.
Inilah bagian penting dari pola asuh otoritatif dan otoriter. Mendengarkan bukan berarti memberikan semua yang anak inginkan atau membiarkan mereka menentukan aturan. Orang tua tetap dapat mendengarkan, menjelaskan, dan memberikan pilihan yang sesuai sambil tetap memperjelas apa yang perlu dilakukan. Anak boleh berkata, “Aku tidak mau,” dan orang tua dapat menjawab, “Mama mengerti. Tapi kamu tetap perlu melakukannya.”
Mendisiplinkan Anak Tanpa Membuat Mereka Takut

Ketika anak melanggar aturan, orang tua dapat merespons dengan cara yang berbeda. Pola asuh otoriter cenderung berfokus pada hukuman, sementara pola asuh otoritatif menggunakan disiplin untuk memperbaiki perilaku dan membantu anak belajar dari kejadian tersebut. Karena itu, ada pertanyaan lain yang dapat membantu orang tua merespons dengan lebih tepat: “Apa yang ingin saya ajarkan kepada anak dari kejadian ini?”
Misalnya, anak berulang kali lupa membawa tugas ke sekolah. Respons otoriter mungkin berupa, “Lupa lagi? Mulai sekarang nggak boleh main dan nggak boleh pegang HP selama seminggu.” Sementara itu, orang tua dengan pola asuh otoritatif dapat berkata, “Kamu lupa bawa tugas lagi. Kenapa bisa lupa?” Setelah mendengarkan jawabannya, orang tua dapat melanjutkan, “Oke, besok gimana supaya nggak lupa lagi?”
Anak mungkin memilih untuk langsung memasukkan tugas ke dalam tas setelah selesai atau menggunakan daftar sederhana sebelum berangkat sekolah. Anak tetap perlu bertanggung jawab karena lupa membawa tugas dengan mengakui kesalahannya, menjelaskan kepada guru jika diperlukan, dan mencari cara agar hal yang sama tidak terulang.
Perbedaannya adalah orang tua menggunakan kejadian tersebut untuk mengajarkan tanggung jawab, bukan berhenti pada hukuman. Pola asuh otoritatif dan otoriter mungkin terlihat mirip karena keduanya dapat melibatkan konsekuensi, tetapi tujuan dari disiplin tersebut berbeda. Disiplin dalam pola asuh otoritatif membantu anak memahami tindakan mereka dan belajar apa yang dapat dilakukan dengan lebih baik lain kali.
4. Memberi Anak Ruang untuk Mandiri
Seiring bertambahnya usia, anak mulai mampu mengambil lebih banyak keputusan. Orang tua tetap perlu membimbing mereka, tetapi anak juga membutuhkan kesempatan untuk belajar membuat pilihan. Pola asuh otoriter cenderung membuat keputusan untuk anak dan mengharapkan mereka mengikuti tanpa banyak ruang untuk bertanya. Sebaliknya, pola asuh otoritatif memberikan arahan sambil memberi anak kesempatan yang sesuai untuk mengambil pilihan sendiri.
Misalnya, anak senang bermain sepak bola dan terlihat memiliki kemampuan di bidang tersebut. Orang tua dengan pola asuh otoriter mungkin berkata, “Kamu bagus main bola. Mama sudah daftarin kamu ke klub, jadi mulai minggu depan kamu ikut latihan.” Ketika anak menjawab, “Tapi aku nggak mau,” orang tua mungkin langsung berkata, “Nggak perlu banyak alasan. Mama sudah putuskan.”
Sementara itu, orang tua dengan pola asuh otoritatif dapat berkata, “Kamu suka main bola, kan? Mama lihat kamu juga punya kemampuan. Kalau kamu mau lebih serius, gimana kalau coba ikut klub?” Anak tetap mendapat arahan dan dorongan dari orang tua, tetapi masih punya ruang untuk menyampaikan pendapat dan ikut terlibat dalam keputusan.
Dalam pola asuh otoritatif dan otoriter, perbedaan ini menjadi semakin penting seiring anak bertumbuh. Orang tua dengan pola asuh otoritatif membantu anak belajar mengambil keputusan yang bertanggung jawab, bukan mengatur setiap keputusan untuk mereka. Tingkat kemandirian tetap perlu disesuaikan dengan usia dan kematangan anak. Anak yang lebih kecil membutuhkan lebih banyak arahan, sementara anak yang lebih besar dapat secara bertahap diberi lebih banyak tanggung jawab.
5. Kesalahan: Kesempatan untuk Belajar atau Sumber Ketakutan?
Anak akan melakukan kesalahan. Mereka mungkin lupa, mengambil keputusan yang kurang tepat, tidak memahami instruksi, atau mengalami kesulitan saat mempelajari sesuatu. Hal-hal seperti ini dapat menjadi kesempatan bagi orang tua untuk membantu anak memahami apa yang terjadi dan belajar darinya.
Pola asuh otoriter cenderung merespons kesalahan melalui kritik atau hukuman, sementara pola asuh otoritatif membantu anak memahami kesalahannya sambil tetap meminta mereka bertanggung jawab. Misalnya, anak mendapat nilai kurang baik karena tidak belajar. Respons otoriter mungkin berupa, “Kan Mama sudah bilang belajar. Sekarang lihat akibatnya.” Sementara itu, orang tua dengan pola asuh otoritatif dapat berkata, “Kamu memang belum mempersiapkan diri dengan cukup untuk ujian ini, dan nilainya menunjukkan itu. Menurutmu, apa yang terjadi? Apa yang bisa kamu lakukan berbeda untuk ujian berikutnya?”
Anak tetap perlu bertanggung jawab karena tidak belajar. Orang tua tidak sedang membenarkan kesalahan atau berpura-pura bahwa hasilnya tidak penting. Sebaliknya, percakapan tersebut membantu anak memahami apa yang terjadi dan membuat rencana yang lebih baik untuk ujian berikutnya.
Orang tua juga dapat menggunakan situasi seperti ini untuk melihat kembali cara mereka menyampaikan harapan. Apakah instruksinya sudah jelas? Apakah anak cukup besar untuk memahami apa yang diharapkan? Apakah mereka membutuhkan lebih banyak arahan atau rutinitas yang lebih baik? Tujuannya bukan membuat anak takut melakukan kesalahan. Anak perlu memahami harapan, bertanggung jawab atas pilihannya, dan perlahan membangun kepercayaan diri serta disiplin diri untuk membuat keputusan yang lebih baik.
Jadi, Seperti Apa Otoritatif dan Otoriter dalam Kehidupan Sehari-hari?
Perbedaan antara pola asuh otoritatif dan otoriter akan lebih mudah terlihat dalam situasi sehari-hari. Keduanya dapat melibatkan aturan, konsekuensi, dan otoritas orang tua, tetapi cara orang tua merespons situasi tersebut dapat sangat berbeda.
Situasi | Pendekatan Otoritatif | Pendekatan Otoriter |
Anak menolak tidur | Tetap mempertahankan batas waktu tidur sambil mengakui perasaan anak dan memberikan pilihan yang sesuai. | Menuntut anak segera berhenti dan menurut tanpa berdebat atau bertanya. |
Anak melanggar aturan | Membahas apa yang terjadi, apa yang perlu dilakukan berbeda, dan konsekuensi yang sesuai. | Berfokus pada hukuman dan mengharapkan anak mengikuti aturan tanpa diskusi lebih lanjut. |
Anak tidak setuju | Mendengarkan pendapat anak sambil tetap mempertahankan otoritas orang tua. | Mengharapkan anak menerima keputusan orang tua dan tidak banyak mempertanyakan. |
Anak melakukan kesalahan | Membantu anak memahami apa yang salah dan belajar apa yang dapat dilakukan berbeda. | Merespons dengan menyalahkan, menghukum, atau memperkuat tuntutan agar kesalahan tidak terulang. |
Anak ingin lebih mandiri | Memberikan pilihan sesuai usia dalam batasan yang jelas. | Membuat keputusan untuk anak dan mengharapkan mereka mengikutinya tanpa bertanya. |
Tabel ini menunjukkan satu hal penting: pola asuh otoritatif bukan berarti orang tua menjadi kurang tegas. Orang tua tetap menetapkan aturan, mempertahankan batasan, dan mengharapkan anak bertanggung jawab. Perbedaannya adalah otoritas tersebut disertai dengan kemampuan untuk mendengarkan, menjelaskan, membimbing, dan memberi kemandirian sesuai usia.
Orang tua juga dapat menggunakan pertanyaan berikut sebagai bahan refleksi:
Apakah anak memahami hal-hal yang memang tidak bisa ditawar?
Apakah mereka tahu kapan boleh menyampaikan pendapat atau pilihan?
Apakah saya secara bertahap memberikan lebih banyak tanggung jawab ketika mereka sudah siap?
Ketika melakukan kesalahan, apakah saya membantu anak memahami apa yang terjadi dan apa yang dapat mereka lakukan berbeda lain kali?
Apakah saya menetapkan batasan sambil tetap memberikan ruang bagi anak untuk berkomunikasi?
Tujuannya bukan menjadi orang tua yang “sempurna”. Yang penting adalah menggunakan otoritas sebagai orang tua dengan cara yang membantu anak memahami harapan, belajar dari pilihan mereka, dan secara bertahap mampu mengambil keputusan dengan bertanggung jawab.
Mendidik Anak Berdasarkan Nilai-Nilai Kristiani
Mengajarkan ketaatan kepada anak juga berarti memahami dari mana otoritas orang tua berasal. Aturan yang kita buat tidak seharusnya hanya didasarkan pada apa yang kita inginkan untuk anak. Setiap batasan dan harapan perlu berlandaskan firman Tuhan. Kebenaran firman Tuhan bukan sesuatu yang dapat ditawar. Karena itu, ketika menetapkan aturan, pertanyaannya bukan hanya, “Apa yang saya ingin anak lakukan?” tetapi juga, “Apa yang firman Tuhan ajarkan dan apa yang Tuhan kehendaki?”
Hal ini juga tercermin dalam Efesus 6:4:
“Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.”
Efesus 6:4
Efesus 6:4 menunjukkan bahwa orang tua dipanggil untuk mendidik dan mendisiplinkan anak, tetapi juga diingatkan untuk tidak membangkitkan amarah mereka. Memiliki otoritas bukan berarti menggunakannya hanya untuk menuntut kepatuhan. Orang tua tetap bertanggung jawab menetapkan batasan dan mengoreksi hal yang salah, tetapi melakukannya dengan cara yang mengajar dan membimbing, bukan sekadar mengontrol.
Orang tua dapat menetapkan batasan yang tegas sambil menjelaskan alasannya dan mendengarkan anak. Daripada hanya berkata, “Karena Mama bilang begitu,” orang tua dapat membantu anak memahami nilai-nilai yang mendasari suatu batasan, seperti kejujuran, kerendahan hati, tanggung jawab, dan kasih. Aturan sehari-hari, percakapan, dan disiplin dapat mengajarkan anak bahwa ketaatan bukan sekadar melakukan apa yang dikatakan orang tua. Anak dapat belajar memahami apa yang benar, mengapa hal tersebut penting, dan bertanggung jawab atas pilihannya. Seiring waktu, proses ini membantu anak membangun disiplin diri dan bertumbuh dalam karakter, sehingga mereka dapat mengambil keputusan yang bertanggung jawab bahkan ketika tidak ada yang melihat.
Menumbuhkan Karakter Anak Bersama SPH
Aturan, kesalahan, perbedaan pendapat, dan tanggung jawab merupakan bagian dari kehidupan anak sehari-hari. Di sekolah, situasi seperti ini juga menjadi kesempatan bagi siswa untuk belajar merespons arahan, mengambil keputusan, dan bertanggung jawab atas pilihan mereka.
Di SPH, sebagai sekolah internasional, prinsip ini diterapkan melalui lingkungan belajar yang memberikan arahan sekaligus ruang bagi siswa untuk berkembang. Guru menetapkan harapan dan memberikan bimbingan, sementara siswa didorong untuk bertanya, menyampaikan ide, mengambil keputusan, dan memahami alasan di balik apa yang mereka lakukan.
Pendekatan ini terlihat dalam kegiatan belajar sehari-hari. Melalui guided play, pembelajaran berbasis inkuiri, dan kegiatan kolaboratif, siswa mendapatkan arahan yang jelas sekaligus kesempatan untuk bereksplorasi, memecahkan masalah, dan belajar dari pengalaman mereka. Seiring bertambahnya usia, mereka juga diberikan lebih banyak kesempatan untuk mengambil tanggung jawab atas pembelajaran dan tugas mereka sendiri. Dengan begitu, mereka dapat mengembangkan kemandirian, disiplin diri, dan kepercayaan diri.
Ketika menghadapi tantangan atau melakukan kesalahan, siswa juga didorong untuk melihat kembali apa yang terjadi dan memikirkan apa yang dapat mereka lakukan dengan lebih baik lain kali. Pengalaman seperti ini membantu mereka memahami bahwa belajar bukan hanya tentang mengikuti instruksi, tetapi juga tentang belajar mengambil tanggung jawab dan membangun karakter.
Bagi keluarga yang ingin melihat bagaimana pendekatan ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di SPH, SPH Open Day akan berlangsung pada 15–17 Oktober 2026 di lima kampus. Ini menjadi kesempatan untuk mengenal lingkungan sekolah dan melihat lebih dekat pengalaman belajar siswa di SPH.
Didirikan pada tahun 1993, Sekolah Pelita Harapan (SPH) telah menjadi Sekolah Kristen Internasional yang terpercaya di Jakarta, menyediakan pendidikan Kristen bagi keluarga Indonesia dan ekspatriat. Sebagai mitra pendidikan yang berdedikasi, SPH berupaya memberdayakan keluarga dengan program dan sumber daya yang dipersonalisasi, mendorong keunggulan akademis, memupuk iman, membangun karakter, dan memfasilitasi pertumbuhan pribadi anak-anak mereka.









