Skip to main content

Mencari cara mengatasi tantrum dengan hal mengalihkan perhatian anak sering menjadi langkah pertama orang tua ketika anak tiba-tiba menangis, berteriak, atau menjatuhkan diri di lantai, apalagi di tempat umum.

Momen yang seharusnya sederhana bisa berubah menjadi situasi penuh tekanan, membuat orang tua merasa panik, malu, dan tidak tahu harus merespons dengan cara seperti apa.

Banyak yang akhirnya bereaksi secara spontan, baik dengan marah, membujuk berlebihan, atau menyerah demi menghentikan tangisan secepat mungkin.

Namun apakah hal ini benar dilakukan? Mari pahami cara mengatasinya dengan cara yang benar agar anak bisa bertumbuh dengan baik. Baca selengkapnya di bawah ini!

Discover. Learn. Thrive.Apa Itu Tantrum dan Mengapa Hal Ini Terjadi?

Tantrum pada anak adalah ledakan emosi yang muncul ketika anak merasa kewalahan dan belum mampu mengatur perasaannya.

Saat anak mengalami tantrum, ia bisa menangis, berteriak, melempar barang, bahkan berguling guling di lantai sebagai cara untuk meluapkan emosinya.

Kejadian seperti ini bukan perilaku manipulatif atau tanda anak nakal, tetapi sinyal bahwa emosi anak sedang “penuh” dan sulit dikendalikan.

Secara neurologis, anak usia dini belum memiliki kemampuan regulasi diri yang matang. Bagian otak yang mengatur logika, impuls, dan emosi masih berkembang, sehingga saat stres meningkat, emosi yang mengambil alih.

Inilah sebabnya menghadapi anak tantrum dengan nasihat panjang sering tidak berhasil. Anak tidak sedang memilih untuk marah, tetapi benar-benar sulit menenangkan dirinya.

Penyebab tantrum sendiri bisa beragam, seperti lapar, lelah, terlalu banyak stimulasi, perubahan rutinitas, frustasi, atau merasa perhatiannya tidak terpenuhi.

Di tempat ramai, kondisi ini bisa semakin intens. Memahami hal ini membantu orang tua untuk tidak langsung menyalahkan anak, tetapi mulai memahami perilaku mereka dan mencari cara agar mereka lebih tenang.

Dengan pemahaman yang tepat, menghadapi anak yang sedang mengamuk bukan lagi soal menghentikan perilaku, tetapi tentang membantu anak merasa lebih aman dan belajar mengekspresikan perasaan dengan cara yang lebih sehat.

Baca Juga: Mengasah Kecerdasan Anak: 4 Manfaat Sensory Play untuk Si Kecil

Cara Mengatasi Tantrum di Tempat Umum: Apa yang Membantu dan Apa yang Tidak

Ketika tantrum pada anak terjadi di tempat umum, banyak orang tua langsung panik karena merasa dinilai oleh sekitar.

Padahal tujuan utama dari cara mengatasi tantrum bukanlah menghentikan tangisan secepat mungkin, tetapi membantu anak merasa aman, dipahami, dan mampu menenangkan emosinya.

1. Tetap Tenang dan Hadir Sepenuhnya

Saat anak tantrum, emosi orang tua akan sangat memengaruhi kondisi anak. Jika orang tua ikut marah atau panik, anak yang tantrum akan semakin sulit mengendalikan emosinya dan bisa menangis lebih keras atau bahkan menendang.

Tetap tenang adalah langkah pertama dalam mengatasi tantrum pada anak agar anak merasa aman dalam situasi yang sulit.

2. Akui Perasaan Tanpa Menyerah pada Perilaku

Mengakui perasaan anak membantu anak merasa dimengerti, meskipun perilaku seperti memukul atau berteriak tetap perlu dibatasi.

Saat anak mengalami tantrum, ia tidak sedang bersikap salah, tetapi sedang kesulitan mengekspresikan emosinya. Validasi ini membuat anak lebih cepat tenang dan membuka jalan untuk mengatasi anak tantrum dengan lebih efektif.

3. Kurangi Stimulasi

Keramaian, suara bising, dan banyak orang bisa membuat anak semakin rewel dan merasa kewalahan. Mengurangi rangsangan dengan berpindah tempat atau mengalihkan posisi membantu perhatian anak kembali stabil.

Langkah ini penting dalam mengatasi tantrum, karena anak usia kecil belum mampu memfilter stimulasi di sekitarnya.

4. Hindari Menasihati Saat Emosi Memuncak

Ketika anak marah dan emosinya memuncak, ia belum bisa berpikir jernih. Menasihati atau memaksa anak berhenti hanya akan memperpanjang tantrum.

Menunggu sampai anak lebih tenang adalah cara terbaik untuk menghadapinya tanpa membuat situasi semakin sulit.

5. Tetapkan Batasan dengan Lembut

Anak tetap perlu memahami bahwa meskipun perasaannya wajar, tidak semua perilaku boleh dilakukan.

Dengan suara tenang dan sikap konsisten, orang tua dapat mengatasi tantrum anak serta mengajarkan batasan yang jelas. Pendekatan ini membantu anak belajar mengelola emosinya tanpa merasa ditolak.

Baca Juga: Faktor Pembentuk Karakter Anak Sejak Dini dan Tipsnya Bagi Orang Tua

Bagaimana Orang Tua Dapat Membantu Anak Belajar Setelah Tantrum

Setelah anak kembali tenang, inilah waktu terbaik untuk membangun pemahaman. Mulailah dengan menghubungkan diri secara emosional. Pelukan, kontak mata, atau kehadiran yang lembut membantu memulihkan rasa aman.

Saat anak siap, ajak mereka merefleksikan apa yang terjadi. Menyebutkan emosi membantu anak mengenali perasaannya dan belajar cara yang lebih sehat untuk mengekspresikannya di kemudian hari.

Sebagai contoh, Anda bisa berkata seperti “Tadi ngerasa marah ya karena nggak bisa pergi ke mall?” atau “Tadi ngerasa sedih karena papa nggak bisa ngajak main?

Dengan pendekatan ini, anak belajar menyelesaikan masalah, bertanggung jawab, dan mengembangkan ketahanan emosional.

Baca Juga: Cara Melihat Bakat Anak Sejak Dini: Panduan untuk Orang Tua

Merespons dengan Kasih, Anugerah, dan Disiplin

Dalam iman Kristen, setiap momen parenting adalah kesempatan untuk mempraktikkan kasih dalam tindakan.

Kesabaran dan Kasih Tanpa Syarat

Alkitab mengingatkan bahwa “Kasih itu sabar, kasih itu murah hati” (1 Korintus 13:4). Saat orang tua merespons tantrum dengan kesabaran, anak belajar bahwa kasih tidak bergantung pada perilaku.

Anugerah dan Disiplin yang Penuh Kasih

Kasih tidak berarti tanpa batas. Amsal 29:15 mengajarkan bahwa disiplin yang penuh kasih membawa hikmat. Anak belajar bahwa kesalahan tidak mendefinisikan mereka, namun pilihan tetap memiliki konsekuensi.

Tantrum sebagai Kesempatan, Bukan Kegagalan

Tantrum sering terasa personal, apalagi di tempat umum. Namun, luapan emosi anak bukanlah cerminan nilai diri orang tua. Ini adalah bagian dari proses tumbuh.

Ketika orang tua melihat tantrum sebagai momen pembelajaran, mereka sedang menanamkan empati, pengendalian diri, dan kesabaran seperti Kristus. Nilai-nilai ini akan membentuk anak jauh melampaui masa kecil.

Baca Juga: Karakteristik Anak Generasi Z yang Perlu Dipahami Orang Tua

Memilih Perspektif di Atas Tekanan dengan Memberikan Anak Dukungan Terbaik!

Tantrum bukanlah tanda pembangkangan, melainkan undangan untuk membimbing dengan kasih dan keteguhan. Ketika kita memilih untuk merespons dengan pengertian, kita sedang membantu anak membangun kekuatan emosional dan kepercayaan diri yang akan mereka bawa sepanjang hidup.

Di tengah tatapan orang lain dan keraguan dalam hati, ingatlah bahwa perilaku anak tidak menentukan nilai Anda sebagai orang tua. Setiap respons yang penuh kasih adalah langkah kecil menuju anak yang lebih kuat secara emosional dan rohani.

Di Sekolah Pelita Harapan, pembentukan karakter, iman, dan kesejahteraan emosional berjalan seiring dengan pembelajaran akademik. Melalui komunitas yang suportif, orang tua tidak berjalan sendiri. Bersama guru dan keluarga lain, setiap tantangan menjadi lebih ringan karena dijalani bersama.

Jika Anda sedang mencari TK internasional di Jakarta atau sekolah internasional di Indonesia yang peduli pada perkembangan karakter dan emosi anak, Sekolah Pelita Harapan siap berjalan bersama keluarga Anda.

Mari bangun masa depan anak dengan kasih, kepercayaan, dan komunitas yang tepat bersama kami!

Your Journey to Lifelong Learning Starts Here

Sekolah Pelita Harapan

Established in 1993, Sekolah Pelita Harapan (SPH) has become a trusted International Christian School in Jakarta providing Christian education for Indonesian and expatriate families. As a dedicated partner in education, SPH seeks to empower families with personalized programs and resources, fostering academic excellence, nurturing faith, building character, and facilitating their children's personal growth.